Tahun 50-70, Sibolga Pusat Transportasi

redaksitapanuli 05/04/2013 1

Alat transportasi tahun 50 an

Oleh: Syafriwal Marbun

Tahun lima puluhan hingga akhir 70-an Sibolga adalah salah satu pusat niaga dan urat nadi ekonomi di Tapanuli dan Pantai Barat pulau Sumatera. Beragam jenis moda transportasi bersileweran.

Di pusat dan pinggir kota, apalagi pada masa itu getah sebagai komoditi utama sedang jaya-jayanya. Kesibukan berbagai jenis bus membuat kota ini selalu hiruk pikuk siang dan malam.

Pemilik kenderaan penumpang (bus) yang paling banyak di Sibolga saat awal tahun 70-an adalah Liem Hong Lap angkutan yang mereka kelola bernama Adlim (Auto Dinas Lim), merek mobil yang mereka miliki sebagian besar adalah Dodge dan lainnya Ford dengan bentuk kepala panjang bulat lampunya menonjol di atas kap mesin kanan dan kiri.

Yang unik bagasi barang ada di bagian belakang bus (bukan di atas) akibatnya bangku untuk penumpang  tinggal ¾ bagian bus hal tersebut gunanya agar aman saat melewati batu berlubang di Simaninggir Kecamatan Sitahuis Kabupaten Tapanuli Tengah, semua bak terbuat dari kayu berlapis plat, dengan jendela ditutupi kain terpal agar terhindar dari panas dan hujan agar bisa menikmati pemandangan selama perjalanan penumpang tinggal menggulung  ke arah atas jendela lalu mengikatnya agar tidak terurai kembali ke bawah.

Konon perusahaan ini membesar karena tangan dingin sang perintisnya yang dari awalnya bermula dari usaha ‘goni botot’ yakni usaha jual beli botol dan goni bekas yang dipikul dari rumah kerumah. Untuk mengingatkan awal usaha tersebut Liem memajang di ruang tamunya sebuah pikulan dari nibung yang sangat licin, karena sering dipakai.

Selain bergerak dibidang angkutan Liem Hong Lap juga memiliki perusahaan sabun cap Boga-boga dan perusahaan angkutan tersebut berangsur padam saat angkutan sejenis bernama ‘Risma’ masuk dengan bus lebih baru bermerek Chevrolet dengan kepala pendek.

Salah satu supir yang amat terkenal, karena enak cara membawanya adalah Alm Sihombing, penumpang merasa nyaman hingga tiba ditujuan Sibolga atau Medan, bila singgah di kota-kota Tarutung, Balige, Pematang Siantar penumpang sering dibawa ‘raung’keliling kota saat penumpang lainnya istirahat makan.

Pemberangkatan bus dari rumah makan biasanya diberi tanda dengan memukul lonceng dari plek roda besi yang digantung dan dipukul palu dari besi. Teng..teng.. maka buspun berangkat meninggalkan kota persinggahan.

Selain angkutan Adlim, angkutan sejenis seperti Tarida, PMTT (Pengangkutan Motor Tapanuli Tengah) pun ikut hilang terlebih masuknya Sibualbuali yang berkelakson unik memakai terompet susun yang bisa bernyanyi.

Penduduk kota dan penumpang merasa terhibur saat bus Sibualbuali ini berkeliling kota mencari penumpang dengan nyanyian Minang ‘Kaparak Arau’ ciptaan Marah Sati:

……..indak dapeeeeeeeeek, samaso bujang yo mande ei…

Baranak ampek……..

Ka den nanti juuoooo, kadenanti juoooo……….(*)

One Comment »

  1. musyawir panggabean 27/08/2013 at 1:45 pm - Reply

    Adlim pernah jatuh masuk selokan di Balige supirnya angku saya Awaludin Panggabean dimakamkan di Balige semasa itu bahan bakar mesin adalah minyak getah kira2 tahun 1927

Leave A Response »